Ekonom Ingatkan Ancaman 'Shrinkflation' Imbas Kenaikan Harga Plastik

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai fenomena inflasi susut (shrinkflation) berpeluang besar terjadi di tengah kenaikan harga plastik imbas perang di Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Shrinkflation terjadi ketika ukuran sejumlah produk yang beredar di pasaran kian menyusut, sementara harga jualnya sama.

Menurut Huda, langkah ini biasanya diambil saat biaya bahan baku meningkat tajam. Pengusaha biasanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menaikkan harga atau mengurangi ukuran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasokan bahan baku dari industri minyak di Timur Tengah terganggu dan membuat Chandra Asri, salah satu pabrik pembuat bahan baku plastik, mengumumkan force majeure," ujar Huda kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/3).

Kenaikan harga plastik ini berdampak luas karena produk industri petrokimia itu digunakan hampir di semua sektor, mulai dari manufaktur hingga pelaku UMKM.

Dalam beberapa usaha, kontribusi biaya plastik bahkan mencapai 10 persen-15 persen dari harga jual.

Huda mencontohkan usaha laundry yang membutuhkan plastik berkualitas baik. Kenaikan harga plastik berpotensi mendorong kenaikan biaya layanan maupun harga barang kebutuhan rumah tangga yang menggunakan kemasan plastik.

Namun, menurut dia, kondisi ekonomi saat ini membuat pelaku usaha sulit menaikkan harga secara langsung. Oleh karena itu, pengusaha cenderung memilih mengurangi ukuran produk agar tidak merugi.

Industri makanan dan minuman disebut paling rentan menerapkan shrinkflation karena ukuran produk relatif mudah disesuaikan tanpa terlalu terlihat. Selain itu, sektor ini juga sangat bergantung pada bahan baku yang menjadi komponen biaya terbesar.

Hal itu berbeda dengan produk manufaktur lainnya yang akan sangat ketara perbedaan ukurannya.

"Jadi, shrinkflation sering kali dilakukan guna menghindari kerugian," ujar Huda.

Ia menilai biasanya masyarakat tetap akan membeli jika tidak ada kenaikan harga. Dalam hal ini, harga tetap menjadi daya tarik utama konsumen, meskipun ukuran barangnya mengecil.

Karenanya, bagi pengusaha, shrinkflation bisa menjadi pilihan utama dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini.

"Shrinkflation sangat besar peluangnya terjadi saat ini, tapi biasanya akan cukup ketara di jangka menengah dan panjang. Saat ini mungkin terjadi shrinkflation, namun tidak signifikan penurunan ukurannya. Ketika setahun, baru akan kelihatan penurunan ukuran," ucap Huda.

Kenaikan harga plastik saat ini dipicu tekanan pada bahan bakunya. Pasokan nafta sebagai bahan baku utama tertekan akibat perang di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak global.

Berdasarkan penjelasan di situs Chandra Asri, perusahaan petrokimia di Indonesia yang memproduksi bahan baku plastik dan biji plastik, nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan 60 persen nafta masih diimpor dari Timur Tengah.

"Kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).

Ia menjelaskan ketergantungan terhadap impor bahan baku dari kawasan tersebut membuat Indonesia ikut terdampak ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi. Kondisi ini kemudian berimbas pada kenaikan harga plastik di dalam negeri

Untuk mengatasi hal tersebut, Budi mengatakan pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan menstabilkan harga di pasar.

"Apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika. Memang ini butuh waktu ya, karena kan tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain," ujarnya.

Senada, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri tengah mencari sumber alternatif pasokan nafta di luar Timur Tengah, mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga, serta mendorong pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi.

Meski harga mahal, Agus memastikan ketersediaan produk plastik tetap aman.

"Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/4) lalu.

[Gambas:Youtube]

(dhz/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |