Daftar Negara Penghasil-Eksportir Bahan Baku Plastik Terbesar di Dunia

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Nafta sebagai produk turunan hasil olahan minyak bumi tengah menjadi sorotan. Pasalnya, plastik di dalam negeri makin mahal akibat pasokan nafta, yang merupakan bahan bakunya, sulit diperoleh produsen.

Pasokan nafta menjadi sulit diperoleh karena sekitar 60 persen kebutuhan Indonesia masih diimpor dari Timur Tengah, kawasan yang terdampak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Perang tersebut telah menekan ketersediaan nafta di Indoensia, sehingga produsen plastik menghadapi kendala dalam proses produksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, ada sejumlah negara di Timur Tengah yang menjadi produsen sekaligus eksportir besar nafta.

Negara-negara itu adalah Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Berdasarkan laporan Import Globals pada 24 Juli 2025, ekspor dari kawasan ini mencapai 55 juta Mt per tahun.

Contohnya di Arab Saudi, salah satu pemain utama adalah SABIC (Saudi Basic Industries Corporation), perusahaan global di industri kimia, plastik, dan nutrisi pertanian yang berbasis di Riyadh. Sekitar 70 persen saham SABIC dimiliki oleh Saudi Aramco.

Negara-negara tersebut memproduksi kelebihan nafta untuk ekspor melalui kompleks kilang dan petrokimia terintegrasi berskala besar seperti kompleks Yanbu di Arab Saudi dan Ras Laffan di Qatar.

Produksi kawasan ini juga meningkat seiring ekspansi kilang di Kuwait (Al-Zour) dan Oman (Duqm).

Selain dari Timur Tengah, Rusia juga merupakan pengekspor nafta. Rusia memasok lebih dari 30 hingga 35 juta ton metrik (Mt) nafta per tahun atau lebih dari seperlima pasar global.

Tahun lalu, Rusia tercatat mendominasi pasokan nafta ke Asia, bahkan memasok lebih dari 50 persen kebutuhan impor India.

India sendiri memainkan dua peran sekaligus. Selain sebagai importir besar untuk memenuhi kebutuhan petrokimia domestik, India juga menjadi eksportir dalam skala kecil.

Saat permintaan domestik melemah atau harga global lebih menguntungkan, kilang besar seperti Reliance Industries dan HPCL Mittal kerap mengekspor kelebihan kargo nafta ke Asia Tenggara dan Eropa.

Saat ini, dengan kondisi Timur Tengah yang sedang bergejolak, Indonesia sedang mencari alternatif sumber impor nafta.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap sumber impor baru itu berasal dari India, Amerika Serikat, dan Afrika. Impor dari ketiga wilayah ini sekarang masih dalam proses. Pemerintah masih menunggu ketersediaan stok dari negara asal sebelum pengiriman dilakukan.

Ia mengakui Indonesia juga harus bersaing dengan negara produsen plastik lain seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura dalam mendapatkan pasokan nafta.

"Kita terus mencari (dari) negara lain yang bisa mensuplai untuk bahan baku biji plastik," ujar Budi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (13/4).

[Gambas:Youtube]

(dhz/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |