AS Susun Rencana Hancurkan Militer Iran di Hormuz jika Gencatan Gagal

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat dilaporkan sedang mengembangkan rencana untuk menghancurkan kemampuan militer Iran di Selat Hormuz, jika gencatan senjata gagal tercapai.

Sumber-sumber yang familiar dengan persoalan ini mengatakan militer AS punya sederet opsi yang dipertimbangkan. Salah satunya serangan dengan fokus khusus ke "penargetan dinamis" terhadap kemampuan Iran di sekitar Selat Hormuz, Teluk Arab bagian selatan, dan Teluk Oman.

Potensi serangan itu rencananya akan menyasar kapal serang cepat berukuran kecil, kapal penebar ranjau, dan aset asimetris lain yang membantu Iran menutup rute perdagangan minyak global ini. Rencana baru itu juga menyerukan kampanye pemboman yang jauh lebih terkonsentrasi di sekitar Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar rudal pertahanan Iran masih utuh meski digempur AS-Israel sejak 28 Februari. Negara itu juga punya banyak perahu kecil yang bisa digunakan sebagai platform untuk melancarkan serangan terhadap kapal, yang mempersulit upaya AS membuka selat.

Meski serangan AS berpotensi masif, sumber lain menyebut kemungkinan besar selat tidak akan langsung terbuka.

"Kecuali Anda bisa membuktikan secara tegas bahwa 100 persen kemampuan militer Iran hancur atau hampir pasti bahwa AS bisa mengurangi risiko dengan kemampuan kita" kata sumber itu kepada CNN, Jumat (24/4).

Dia lalu berujar, "Semuanya akan bergantung pada seberapa besar [Presiden AS Donald Trump] bersedia menerima risiko dan mulai mengirimkan kapal melalui selat."

Sumber lain mengatakan militer AS juga menindaklanjuti ancaman Trump sebelumnya untuk menyerang target multifungsi dan infrastruktur, termasuk fasilitas energi. Ini bisa menjadi cara Washington memaksa Iran ke meja perundingan.

Trump berulang kali mengatakan AS akan melanjutkan operasi tempur jika tidak ada solusi diplomatik untuk perang tersebut.

Tak cuma menyerang persenjataan militer, opsi lain yang dipertimbangkan perencana militer adalah menargetkan pemimpin militer Iran secara individu dan "penghalang" yang dianggap merusak negosiasi.

Salah satu yang jadi sasaran adalah Ahmad Vahidi, Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

"Karena alasan keamanan operasional, kami tidak membahas pergerakan di masa depan atau yang bersifat hipotetis," kata sumber di Kementerian Pertahanan AS.

"Militer AS terus memberikan opsi kepada Presiden, dan semua opsi tetap terbuka," imbuh dia.

Dalam salah satu unggahan, Trump menyebut negosiasi lanjutan belum terlaksana karena "perpecahan" di Iran. Perbedaan ini merujuk ke IRGC dan para negosiator Iran.

AS juga kemungkinan akan melakukan serangan tambahan ke persenjataan Iran termasuk rudal, peluncur, dan fasilitas produksi yang tidak hancur dalam gelombang serangan awal AS-Israel.

Senada dengan rencana tersebut, pekan lalu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengancam akan menyerang target-target tersebut jika Iran menolak untuk menyetujui kesepakatan.

Trump tampaknya waspada terhadap kemungkinan perang kembali dengan Iran dan lebih memilih untuk menyelesaikan secara diplomatik.

Namun, di saat yang sama, beberapa sumber mengakui bahwa perpanjangan gencatan senjata Trump bukanlah "tanpa batas waktu" dan militer AS siap melanjutkan serangan jika diminta.

(isa/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |