Kisah Eks TKI Jadi Afiliator, Raup Cuan Berkat Internet Gratis Komdigi

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Awal tahun lalu, Nasrullah (30) harus berjalan sekitar 1,5 kilometer ke perbatasan desa hanya untuk mengunggah satu video di media sosial. Aktivitas itu beberapa kali dilakukannya.

Waktu yang dibutuhkan pun tak sebentar, mencapai satu jam hanya untuk satu unggahan. Sinyal yang sulit dan tidak stabil menjadi penyebabnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau mau upload di Facebook aja, harus pergi ke perbatasan dulu, perbatasan Desa Jeruk Manis sama Kembang Kuning, karena di sana kan tinggi, di sana ada sinyal lumayan," kata Nasrullah di rumahnya di Desa Jeruk Manis, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/4).

Kini, dari rumahnya, aktivitas mengunggah video itu bisa dilakukannya hanya dalam hitungan menit.

Perubahan itu terjadi sejak ia menjadi salah satu penerima manfaat program Kampung Internet yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Digital. Di rumahnya, kini tersedia jaringan internet gratis.

"Tapi kalau sekarang nggak sampai satu menit bisa upload di TikTok, karena sekarang udah bisa kerja di affiliate," katanya.

Ia bercerita sempat bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia selama tiga tahun. Sepulangnya ke kampung halaman pada 2021, ia sempat serabutan mulai dari bekerja harian di sawah dan restoran.

Nasrullah lalu penasaran melihat orang-orang yang bisa menghasilkan uang dari internet.

"Dulu sih gaptek, cuma lihat di YouTube, karena penasaran, penasaran kok bisa di internet banyak orang bisa dapat duit, bahkan ada juga yang sampai Rp100 juta ya sehari di affiliate ini, makanya penasaran jadi belajar dari internet," katanya.

Niat awalnya menjadi affiliator terkendala sinyal. Affiliator adalah individu yang bekerja mempromosikan produk orang lain lewat internet dan mendapat komisi dari setiap penjualan yang berhasil.

Nasrullah lalu mendengar program Kampung Internet dari Komdigi itu pada Agustus tahun lalu. Ia lalu mengajukan sebagai penerima manfaat ke pihak desa.

"Setelah ada internet baru fokus ke affiliate. Sekarang juga mau coba di FB Pro juga kan, mumpung sinyalnya kenceng banget," ucap dia.

Dengan koneksi internet yang stabil, Nasrullah mampu mengunggah hingga 10 video per hari dari satu akun di TikTok. Saat ini, ia mengelola dua akun dan berniat merambah ke platform digital lain.

Dari satu akun, ia mengaku bisa menghasilkan sekitar Rp200 ribu per hari. Jika dikalkulasi, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp6 juta per bulan.

"Alhamdulillah sekarang udah banyak seller yang kirimin sampel gratis berkat itu ya, affiliate," katanya.

Selain sebagai afiliator, ia juga memanfaatkan akses internet itu untuk menjual produk pertanian di Facebook. Nasrullah mengatakan internet tidak hanya membantu pekerjaannya, tetapi juga dimanfaatkan oleh keluarga dan tetangga sekitar.

"Alhamdulillah ya, sekarang bisa kerja dari rumah aja lewat internet," ujar dia.

Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin mengatakan di wilayahnya itu, jaringan telpon juga sebelumnya sudah cukup sulit.

Ia mengatakan program Kampung Internet itu telah membantu warga dan pemerintah desa bekerja maksimal.

Nasipudin mengatakan program itu banyak dimanfaatkan warga yang memiliki usaha homestay.

"Di sini kan ada beberapa penerima manfaat, jadi kalau dari program ini ada 70-an titik yang di yang di yang ada di desa, dan itu sudah diberikan juga kepada UMKM-UMKM kita, baik itu UMKM dalam bentuk makanan ringan maupun dalam bentuk usaha di bidang homestay dan sebagainya," kata dia.

Omzet puluhan juta

Puluhan kilometer dari rumah Nasrullah, akses internet gratis itu juga dimanfaatkan Isnawati Kamariah untuk mempromosikan dagangannya.

Salah seorang pelaku UMKM di Desa Setanggor, Isnawati Kamariah, mengaku kehadiran internet gratis sangat membantu usahanya menjual sembako dan buah-buahan.

Ia bisa mempromosikan dagangannya secara lebih luas melalui media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram, tanpa harus mengeluarkan biaya.

"Sejak adanya Komdigi ini lebih hemat pokoknya, nggak perlu ngeluarin biaya untuk promosi ini itu. Bisa langsung promosi langsung dan penjualannya meningkat karena banyak yang tahu," katanya.

Sebelum adanya program tersebut, ia mengaku bisa merogoh kocek mencapai Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per bulan. Isnawati membeli paket data atau voucher internet kepada tetangganya yang memiliki jaringan Wi-Fi.

Menurut Isnawati, peningkatan akses internet juga berdampak pada kenaikan penjualan. Ia bahkan menyebut omzet usahanya bisa mencapai hingga Rp20 juta per hari saat ramadan dan lebaran.

"Produk buah sama sembako, bumbu-bumbu dapur, paling laris bumbu dapur sama buah-buahan," ujar dia.

Program Kampung Internet dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menjangkau 66 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Setanggor, Nusa Tenggara Barat (NTB).Salah seorang pelaku UMKM di Desa Setanggor, Isnawati Kamariah, mengaku kehadiran internet gratis sangat membantu usahanya menjual sembako dan buah-buahan. (Foto: CNN Indonesia/Yogi Anugrah)

Isnawati juga memanfaatkan internet untuk siaran langsung (live) berjualan di media sosial.

Menurutnya, koneksi Wi-Fi dari program Kampung Internet itu lebih stabil dibandingkan data seluler.

"Soalnya kalau kita pakai data kan kadang ada yang nelpon langsung mati kan kalau kita lagi live jualan. Kalau pakai Wi-Fi kan dia lancar Wi-Fi-nya, nggak mati siaran langsungnya, tetap kita siaran langsung," ujar dia.

Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Mulyadi mengatakan program Kampung Internet tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai target RPJMN terkait dengan cakupan fixed broadband.

Pada 2025 lalu, bantuan akses internet itu menjangkau 1.282 titik di 22 desa pada 10 kabupaten di 6 provinsi.

"Ditargetkan di tahun 2029 itu 90 persen kecamatan di Indonesia ini terlayani dengan fixed broadband. Sekarang kondisinya baru 72 persen. Memang upaya yang luar biasa yang harus kita lakukan," kata Mulyadi.

Mulyadi mengatakan program internet gratis tersebut bersifat sementara selama 6 bulan-1 tahun, sebagai stimulus awal bagi masyarakat.

Ia menjelaskan setelah masa bantuan berakhir, penerima manfaat diharapkan dapat melanjutkan langganan internet secara mandiri.

"Selanjutnya setelah satu tahun pemberian bantuan kepada penerima manfaat, kita harapkan jaringan ataupun berlangganan internet yang telah mereka dapatkan itu bisa mereka bayar secara mandiri karena mereka merasakan manfaatnya, baik karena ekonomi mereka tumbuh ataupun lingkungan di sekitarnya juga tumbuh," kata dia.

(yoa/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |