9 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Menggerakkan Kaki saat Diam

1 hour ago 6

CNN Indonesia

Jumat, 24 Apr 2026 17:45 WIB

Kebiasaan menggerakkan atau menggoyangkan kaki saat duduk kerap dianggap sepele. Namun, ternyata hal tersebut sinyal dari cara kerja pikiran seseorang. Ilustrasi. Ada beberapa kepribadian yang tergambar dari orang yang suka menggerakkan kaki saat diam. (istockphoto/skynesher)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebiasaan menggerakkan atau menggoyangkan kaki saat duduk kerap dianggap sepele. Namun, ternyata hal tersebut sinyal dari cara kerja pikiran seseorang.

Gerakan kecil ini tidak selalu berarti gugup, justru menjadi cara tubuh membantu otak tetap fokus atau melepaskan ketegangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahasa tubuh seperti fidgeting atau gerakan kecil berulang, sering dikaitkan dengan kecemasan. Namun, kebiasaan ini juga bisa muncul karena otak membutuhkan stimulasi tambahan untuk mempertahankan perhatian.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa gerakan fisik ringan, seperti menggoyangkan kaki, dapat membantu fungsi kognitif tertentu, termasuk konsentrasi dan pemrosesan informasi.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut merupakan beberapa kepribadian orang di balik kebiasaan menggerakkan kaki.

1. Pemikir mendalam

Seperti dikutip dari laman Your Tango, orang yang sering menggoyangkan kaki cenderung memiliki pikiran yang aktif. Mereka tidak hanya mendengar atau melihat sesuatu di permukaan, tetapi juga menganalisis lebih dalam dan membangun opini sendiri.

Sebuah studi pada 2022 menunjukkan bahwa gerakan seperti ini dapat membantu fungsi otak, sehingga mempermudah konsentrasi saat pikiran dipenuhi banyak ide. Karena tidak semua pikiran bisa diungkapkan, tubuh mencari jalan keluar melalui gerakan fisik.

2. Selalu berpikir selangkah ke depan

Kebiasaan ini juga sering dimiliki oleh orang yang berpikir jauh ke depan. Mereka terbiasa memprediksi kemungkinan, merencanakan langkah berikutnya, bahkan memikirkan skenario terburuk.

Di satu sisi, pola pikir ini membantu mereka lebih siap menghadapi situasi. Namun di sisi lain, bisa memicu kecenderungan overthinking jika tidak dikelola dengan baik.

3. Cenderung cemas

Gerakan kaki yang terus-menerus bisa menjadi bentuk pelepasan kecemasan. Banyak orang tanpa sadar menggunakan gerakan kecil sebagai cara untuk meredakan stres atau ketegangan mental.

Kecemasan tidak selalu terlihat jelas, tetapi tubuh sering 'berbicara' melalui bahasa nonverbal. Menggerakkan kaki bisa menjadi mekanisme coping untuk menyalurkan energi emosional yang terpendam.

4. Suka melamun

Orang dengan kebiasaan ini sering tenggelam dalam pikiran sendiri. Mereka membayangkan berbagai skenario, ide, atau kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Melamun sebenarnya bisa meningkatkan kreativitas, tetapi juga bisa menjadi cara untuk menghindari emosi yang tidak nyaman.

Mengutip dari Neuro Launch, menggerakkan tangan dan kaki merupakan cara untuk memusatkan perhatian kita dan mencegah pikiran kita melayang.

5. Peduli pada orang lain daripada diri sendiri

Mereka cenderung peduli pada orang lain dan sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri. Sifat ini membuat mereka rentan mengalami kelelahan emosional.

6. Overthinker

Orang yang sering berpikir berlebihan biasanya sulit benar-benar tenang. Pikiran mereka terus aktif, bahkan saat tidak ada hal mendesak.

Gerakan kaki menjadi bentuk pelepasan fisik dari tekanan mental. Ini membantu mengurangi ketegangan, meski hanya sementara.

7. Ambisius

Ambisi tinggi sering membuat seseorang sulit untuk benar-benar berhenti. Mereka selalu merasa harus melakukan sesuatu yang produktif.

Akibatnya, saat tubuh dipaksa diam, energi tersebut tetap keluar dalam bentuk gerakan kecil seperti menggoyangkan kaki.

8. Cenderung multitasking

Ilustrasi rapat kerjaIlustrasi. Orang yang suka menggerakkan kaki saat diam biasanya cenderung multitasking. (iStock/jacoblund)

Mereka membutuhkan lebih dari satu stimulasi untuk tetap fokus. Misalnya, mendengarkan sambil bergerak.

Meski multitasking tidak selalu efektif, bagi sebagian orang, kombinasi aktivitas fisik dan mental justru membantu menjaga konsentrasi.

9. Memiliki energi tinggi

Orang dengan energi tinggi cenderung sulit diam dalam waktu lama. Tubuh mereka terbiasa bergerak, bahkan dalam situasi santai.

Penelitian dari Aging Clinical and Experimental menunjukkan bahwa energi tinggi sering dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Gerakan kecil seperti ini bisa menjadi bentuk penyaluran energi tersebut.

Menggerakkan kaki saat duduk bukan sekadar kebiasaan tanpa arti. Dalam banyak kasus, ini adalah refleksi dari pikiran yang aktif, emosi yang kompleks, atau kebutuhan tubuh untuk tetap terstimulasi.

Meski begitu, kebiasaan tidak bisa langsung mendefinisikan kepribadian seseorang. Namun, memahami sinyal-sinyal kecil seperti ini bisa membantu kita lebih mengenali diri sendiri dan cara kerja pikiran kita sehari-hari.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |